Sebelum membahas Shadaqoh lebih lanjut, maka alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu arti shadaqoh, baik menurut Etimologi (bahasa) maupun menurut Terminologi (istilah). Menurut etimologi shadaqah adalah “memberi sesuatu “ atau “derma kepada orang miskin dan sebagainya berdasarkan cinta kasih kepada sesama manusia".
Sedangkan shadaqoh menurut Terminologi sebagaimana diungkapkan oleh beberapa ulama fiqh, diantaranya menurut Muhammad an-Nawawi hibah mempunyai tiga pengertian, yaitu hibah sendiri, shadaqoh dan hadiah. Hibah dan hadiah adalah memberikan sesuatu zat dengan tidak ada tukarannya dan tidak ada karenanya, sedangkan shadaqoh adalah memberikan zat dengan tidak ada tukarannya, karena mengharapkan pahala di akhirat.
Dari definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa shadaqoh merupakan bagian dari hibah, yaitu sama-sama menyerahkan sesuatu barang/zat untuk dipergunakan atau dimiliki oleh orang lain. Perbedaannya kalau hibah menyerahkan sesuatu zat tanpa mengharapkan sesuatu apapun, sedangkan shadaqoh memberikan sesuatu zat karena mengharapkan pahala diakhirat nanti, atau mengharapkan ridho Allah. Kesimpulan lain adalah bahwa Shadaqoh bisa berupa zat (benda) yang berwujud (materi) bisa juga juga berupa jasa (non materi).
B. Dasar-dasar shadaqoh
B. Dasar-dasar shadaqoh
Bershadaqoh merupakan amalan yang terpuji, karena dengan bershadaqoh dapat membantu orang lain dari kesusahan dan akan mempererat antara yang lebih kaya dengan orang yang miskin. Oleh karena itu perintah untuk bershadaqoh banyak tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits, sebagaimana tersebut di bawah ini:
- Al-Qur’an surat an-Nisa ayat 114 yang artinya “tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shadaqoh atau berbuat baik atau mengadakan perdamaian diantara manusia”
- Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 103 yang artinya ”ambillah shadaqoh (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan shadaqoh (zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenangan jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”
- Al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 262 yang artinya “orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala disisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
- Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abi Hurairah, yang artinya “Tujuh kelompok yang akan dilindungi oleh Allah, di hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah, yaitu :
- Imam yang adil,
- Pemuda yang selalu ibadah kepada Tuhannya,
- Laki-laki yang hatinya terikat dengan Masjid,
- Dua orang laki-laki yang mencintai Allah, baik ketika bersatu ataupun ketika berpisah,
- Laki-laki yang dapat menghindar dari berbuat mesum ketika seorang perempuan cantik mengajaknya dan laki-laki tersebut berkata aku takut kepada Allah,
- Laki-laki yang hatinya tunduk kepada Allah dan selalu mengeluarkan air mata ketika ibadah,
- Laki-laki yang bershadaqoh dengan shadaqohnya ia selalu menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya”.
Allah swt dalam beberapa ayat-Nya memerintahkan manusia untuk berinfak dan bersedekah. Sebab, ada banyak keutamaan atau manfaat infak dan shadaqah tersebut bagi manusia. Di antaranya;
1. Memperbaiki hubungan manusia dengan Allah swt
Infak atau shadaqah apakah sunat maupun wajib, yang pasti adalah perintah Allah swt. Banyak ayat maupun hadits yang memerintahkannya, misalnya surat al-Munafiqun [63]: 10, “Dan nafkahkanlah sebagian apa yang telah kami beri rezeki kepadamu…”. Selanjutnya dalam surat al-Baqarah [2]: 3, Allah swt menyebutkan bahwa salah satu ciri orang bertaqwa adalah “…menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”. Begitu juga dalam surat at-Taubah [9]: 103, Allah swt berfirman
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah dari harta mereka shadaqah yang akan membersihkan harta mereka dan mensucikan jiwa mereka.”
Dengan demikian, ketika seseorang memberi apakah bentuknya infak atau shadaqah, artinya dia sedang melaksanakan perintah Allah swt, dan ketika itu berarti dia sedang beribadah. Bukankah ibadah sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah swt?
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan
ان الله في عون العبد مادام العبد في عون اخيه
Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menolong hamba-Nya, selama hambanya itu selalu menolong saudaranya”. Hal itu menunjukan bahwa infaq atau shadaqah akan menjadikan seseorang dekat dengan pertolongan Allah swt, yang tentu saja diperoleh karena hubungan yang baik dengan-Nya.
Selanjutnya, dengan berinfaq atau bersedakah seseorang akan terhindar dari murka, kecaman, dan amarah Allah swt. Sebab, dalam al-Qur’an kata mâl yang berarti harta, kadangkala digabungkan dengan dhamîr mufrad (kata ganti bentuk tunggal) seperti mâlahu yang berarti hartanya, dan kadangkala digabungkan dengan dhamîr jama’ (kata ganti bentuk banyak) seperti amwâlahum yang berarti harta mereka. Akan tetapi, semua kata mâl atau harta yang digabungkan dengan kata ganti tunggal, selalu dalam makna kecaman atau kemurkaan Allah swt. Lihat misalnya surat al-Baqarah [2]: 264, surat Nuh [71] : 21, Surat al-Lail [92] : 11, surat al-Humazah [104] : 3, al-Lahab [111] : 2. Dengan demikian, berarti bahwa harta yang befungsi individual dan tidak berfungsi sosial, maka Allah swt sangat memurkai dan mencelanya. Bukankah orang yang dimurka dan dicela Allah swt, berarti hubungannya tidak baik dengan-Nya. Begitulah, infak dan shadaqah bertujuan memperbaiki hubungan manusia dengan Allah swt.
2. Memperbaiki hubungan manusia dengan diri sendiri
Dengan berinfak atau bersedekah pada hakikatnya seseorang menyadari kalau dia bukanlah pemilik sesuatu, namun hanya penerima titipan Allah swt yang mesti dia bagikan kepada orang lain yang merupakan hak mereka. Dengan menyadari kalau harta bukanlah miliknya secara penuh, maka dia akan terhindar dari sikap tama’, rakus, sombong, kikir dan seterusnya. Bukankah semua hal itu merupakan penyakit yang selalu mengotori rohani manuisa?
Begitu juga dengan memberi, seseorang akan terhindar dari kendali perbudakan hawa nafssu. Sebab, ketika seseorang menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan Allah swt, sudah pasti dia akan mencari dan mendapatkannya sesuai keinginan Allah swt dan membelanjakannya sesuai aturan Allah swt juga. Begitulah agaknya yang dimaksud Allah swt dalam surat at-Taubah [9]: 102 di atas, bahwa bersedakah tidak hanya bertujuan membersihkan harta dari kotorannya (thathhîr), tetapi juga bertujuan mensucikan jiwa manusia dari kotoran yang bisa mengotorinya (tadzkiyah).
3. Memperbaiki hubungan manusia dengan sesama
Dengan berinfak atau bersedekah, kemudian diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, akan menimbulkan rasa persaudaraan dan kasih sayang di antara sesama manusia. Dengan memberi, juga bisa memperkecil jurang pemisah antara yang kaya dan miskin. Dengan memberi, juga bisa menimbulkan gairah dan semangat usaha bagi yang miskin.
Namun, ketika semangat berinfak dan bersedekah sudah tidak ada lagi di tengah masyrakat, maka dipastikan akan muncul berbagai macam permasalahan sosial. Itulah yang diingatkan Allah swt dalam surat Muhammad [47]: 37
إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ
Artinya: “Dan Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesakmu untuk memberikan harta seluruhnya pasti kamu kikir. Dan Dia akan menimpakan kedengkianmu.” Ayat ini memperingatkan, bahwa kalau manusia kikir terhadap yang lain, maka akan muncullah kedengkian antar sesama atau kecemburuan sosial. Kedengkian ini pada akhirnya berujung dalam bentuk kejahatan, seperti pencurian, perampokan, penjarahan dan sebagainya. Hal ini kemudian akan menimbulkan berbagai macam kejahatan dan persoalan sosial, yang mengakibatkan hilangnya rasa aman, saling percaya, dan keharmonisan masyarakat.
Agaknya itulah rahasia kenapa pemberian disebut shadaqoh, karena dengan shadaqoh akan muncul saling percaya (shadaqa) dan dengan memberi akan muncul pertemanan (shadîq).
4. Memperbaiki hubungan manusia dengan harta
Dengan berinfak dan bersedekah seseorang berarti telah menjadikan harta dan kekayaannya sebagai sarana hidup untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan abadi, bukan menjadikan hartanya tujuan akhir kehidupan. Sebaliknya, orang yang kikir berarti menjadikan hartanya sebagai tujuan hidup. Dengan memberi, seseorang terlepas dari perbudakan harta benda dan terbebas dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan kekayaan. Sebab, Allah swt mencela manusia yang menjadikan hartanya sebagai tujuan hidup, dan yang mencintai hartanya secara berlebihan. Firman Allah swt dalam surat al-Humazah [104]: 1-2
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ(1)الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ(2
Artinya: “Kecelakaan besar bagi pengumpat dan pencela. Yang selalu mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya (kikir dan mencintainya secara berlebihan).”